DIDADAMEDIA, Bandung - Kasus ketergantungan terhadap gadget dinilai sudah memasuki fase siaga. Bahkan setiap harinya 10 sampai 12 anak menjadi pasien rehabilitasi Rumah Sakit Jiwa Cisarua akibat kecanduan gadget.
Hal itu diungkapkan Iip Saripudin selaku Kepala Seksi Pemenuhan Hak Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3APM) Kota Bandung.
Sebagai upaya menyelamatkan anak dari gadget, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melalui DP3APM akan membuat berbagai program. Di antaranya Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) diseluruh kewilayahan Kota Bandung.
BACA JUGA :
Selain itu juga diimbau agar diseluruh kelurahan didirikan Pusat pembelajaran keluarga (Puspaga). Lewat Puspaga diberikan bagaimana cara atau seperti apa pola asuh yang baik bagi anak-anak. Bahkan disiapkan beragam materi parenting yang bisa diakses siapa saja. Disamping itu juga bisa menjadi tempat untuk konseling untuk keluarga yang ingin sharing tentang perkembangan anak.
Menurut Iip, banyak faktor yang mempengaruhi anak kecanduan gadget salah satunya pola asuh atau pola didik yang salah. "Zaman sekarang ini semua seolah dikendalikan oleh gadget, dirumah saja masing-masing anggota keluarga sibuk megang gadget saat ngumpul dengan keluarga. Bangun tidur sampai mau tidur, yang paling banyak disentuh yakni gadget," paparnya.
Akhirnya, tidak hanya orang dewasa atau orang tua yang kecanduan gadget, anak-anak pun demikian. Bahkan, beberapa kasus terjadi dari gadget pembentukan karakter anak menjadi tidak bisa dikendalikan. "Mulai dari cepat marah, emosi, bahkan sampai ada yang melakukan aksi kekerasan kepada sesama temannya karena gadget," ujar Iip.
Hal itulah, lanjutnya, yang harus mulai dihentikan dimulai dari rumah. Caranya, Iip memberikan tips, buatlah komitmen untuk tidak menggunakan gadget dirumah. "Isilah waktu dengan bermain bersama dirumah, membaca, diskusi sampai berilah waktu kepada anak-anak untuk menceritakan apa yang mereka dapat selama disekolah atau diluar saat bermain bermasa teman-temannya," ujar Iip.
Bayangkan, lanjut Iip, 150 penghuni Lapas Anak Sukamiskin 80% kasus yang dialaminya diakibatkan oleh gadget. Dijelaskannya, kasus yang terjadi sebagian besar karena kekerasan bahkan membunuh. "Kekerasan yang terjadi bisa karena dari game yang banyak menampilkan aksi-aksi berantem," akunya.
Lebih jauh ia menegaskan, orang tua harus benar-benar peduli terhadap perkembangan anak. Jangan sampai anak tumbuh dengan karakter yang buruk, semua itu bisa diatasi salah satunya dengan kasih sayang.
"Banyaklah meluangkan waktu untuk anak, berikan kasih sayang kenada anak-anak. Kebanyakan hanya kasih, dalam artian apa yang diminta anak selalu dikasih tapi bukan atas dasar sayang. Misalnya anak usia balita mau handphone dikasih tapi tidak memikirkan efek dari apa yang diberi," tuturnya.