DIDADAMEDIA, Bandung - Setelah jatuh bangun membangun bisnis, Widya akhirnya bisa menikmati buah dari kerja keras yang dia lakukan selama ini. Pemilik usaha kuliner, Nasi Goreng Bistik Sawah Kurung ini mengaku, sempat frustasi hingga dia 'berkenalan' dengan Grab, perusahaan layanan jasa aplikasi untuk transportasi online, dan layanan jasa antar makanan serta barang online.
Singkat cerita Nasi Goreng Bistik Sawah Kurung yang terletak di Jalan Sawah Kurung, Ciateul, Kota Bandung, saat ini telah menjadi salah satu kuliner ternama di kota kembang. Walau sudah tenar, sepak terjang Nasi Goreng Bistik Sawah Kurung sebenarnya tak semulus yang dibayangkan dan dilihat seperti sekarang. Widya, sang pemilik rumah makan, bercerita kalau bisnisnya sempat mengalami jatuh bangun sebelum bergabung ke layanan pesan antar makanan Grab, GrabFood, dua tahun lalu.
“Awal bikin Nasi Goreng Bistik Sawah Kurung itu di tahun 2015, karena Nasi Goreng Bistik saat itu mulai menjadi tren di kota Bandung. Alasannya, nasi goreng juga telah menjadi makanan yang paling mudah dicari orang. Nah, kenapa tidak kita modifikasi resepnya dengan bahan-bahan yang tidak biasa dimasak, tetapi rasanya tetap lezat?” kisah Widya dalam rilis yang diterima DIDADAMEDIA, Senin (19/8/2019).
BACA JUGA :
Semangat Widya untuk mendirikan Nasi Goreng Bistik Sawah Kurung pun dibuktikan dengan konsistensinya mempertahankan cita rasa dari menu nasi goreng yang dimasak. Namun, cita rasa ternyata bukan satu-satunya hal yang harus dipertahankan. Meski banyak yang mengakui kalau rasa Nasi Goreng Bistik Sawah kurung nikmat, nyatanya laju bisnis nasi goreng milik Widya ini malah berjalan serat di masa-masa awal berdiri.
“Saya tahu, agar pelanggan mau datang kembali ya kita harus mempertahankan cita rasa dari makanan. Namun, hal ini ternyata belum bisa menghasilkan keuntungan. Padahal, kita juga telah menyediakan pesan antar khusus bagi pelanggan, tetapi setiap harinya cuma ada 4-5 pesanan dari pelanggan. Promo-promo yang kami buat dan dipasang di media sosial, juga tidak mampu menaikkan pendapatan usaha,” kenangnya.
Nyaris putus asa, Widya terus memutar otak agar bagaimana tetap bertahan dengan Nasi Goreng Bistik Sawah Kurung demi mendapatkan untung dari penjualan. Tak butuh waktu lama, Widya pun mendaftarkan bisnisnya ke GrabFood yang saat itu baru hadir di Bandung.
Hanya berselang beberapa bulan, Nasi Goreng Bistik Sawah Kurung mengalami kenaikan omzet yang sangat drastis. Diakui Widya, setiap harinya ada sekitar 100 pelanggan yang akhirnya membeli menu-menu unik Nasi Goreng Bistik Sawah Kurung lewat aplikasi Grab. Padahal, sebelum bergabung dengan GrabFood, cuma ada sekitar 25 pelanggan yang makan di tempat atau membawa pulang makanan setiap harinya.
“75 persen omzet dari Nasi Goreng Bistik Sawah Kurung itu sekarang berasal dari pembelian lewat GrabFood. Harus diakui, GrabFood menjadi salah satu penunjang bisnis saya karena membuat Nasi Goreng Bistik Sawah Kurung lebih dikenal. Selain itu, promo-promo yang ditawarkan oleh Grab juga sangat menaikan jumlah omzet. Banyak juga pelanggan yang datang makan ke sini dan bilang ‘biasanya saya pesan di Grab’,” tandas Widya.
Kini, Warung Nasi Goreng Sawah Kurung menawarkan banyak varian menu nasi goreng bistik dengan berbagai rasa unik. Menu terlarisnya adalah Nasi Goreng Bistik Original. Sementara menu-menu lain yang tak kalah diburu pelanggan seperti Nasi Goreng Bistik Mozarella, Nasi Goreng Bistik Sambal Goang, dan Nasi Goreng Bistik Ningrat Cumi Asin. Semua menu dibanderol di kisaran harga yang sangat ramah kantong, yakni sekitar Rp 30 ribuan saja.
Ke depannya, Widya berharap Nasi Goreng Bistik Sawah Kurung bisa memperluas usahanya ke banyak cabang dan semakin diminati pelanggan, khususnya lewat yang membeli GrabFood. Terlebih, dirinya ingin Nasi Goreng Bistik Sawah Kurung bisa menjadi lebih baik lagi dalam taraf memberikan kepuasan kepada pelanggan.
Widya adalah satu dari 5 juta wirausahawan mikro yang tergabung dalam platform Grab di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian Riset Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics di tahun 2018, mitra merchant yang bergabung dengan GrabFood rata-rata melihat peningkatan penjualan sebesar 25% dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp11 juta/bulan.
Kini, GrabFood telah menghadirkan lebih banyak pilihan merchant ke dalam aplikasinya. Alhasil, pertumbuhan volume pengiriman yang meningkat hampir 10 kali lipat pada tahun 2018. Layanan pesan antar makanan GrabFood juga telah dapat dinikmati di 178 kota di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.